page contents

SAATNYA HINDU DI JAWA TAMPIL DENGAN IDENTASNYA SENDIRI

Abdi dalem Keraton Yogyakarta dan warga berdoa saat acara tradisi labuhan di Pantai Goa Cemara, Bantul, Yogyakarta, Rabu (14/10). Acara tahunan yang dihadiri oleh ribuan warga itu menjadi simbol ucapan syukur masyarakat setempat atas segala limpahan rejeki dan keselamatan dari Tuhan YME sekaligus dalam rangka menyambut Satu Suro. ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko/kye/15.

Untuk mengawali tulisan ini, penulis ingin menyodorkan pertanyaan ini. “Benarkah orang Jawa telah meninggalkan Hindu?”, “Benarkah sembilan puluh prosen penduduk Jawa telah memeluk agama non Hindu?” Jawabannya sudah bisa dipastikan relatif, tergantung dari siapa yang menjawab, serta dalam sudut pandang

Balinisasi, tonggak awal kehancuran kedua Hindu Nusantara

rimbi_01a

Pada awal kemerdekaan, Kementrian Agama RI masih menganggap penganut Hindu sebagai kaum pemuja berhala dan pengikut sistem keyakinan primitif. Masyarakat Hindu masih berdiri sendiri tanpa ada wadah yang menaunginya. Sangat berbeda dengan Islam dan Kristen yang pada saat itu sistem

“Salam dan Kebangkitan Hindu di Jawa”

images13

Pada hari Kamis (8/11/2012) pagi, saya berkesempatan menonton tayangan langsung acara pembukaan “Bali Democracy Forum V” di Bali. Acara itu dibuka oleh Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono dan dihadiri sejumlah kepala negara dan pemerintahan. Saat menyampaikan sambutan, Presiden SBY mengucapkan basmalah,

RITUAL KEMATIAN NYORAT

dayak

Kekayaan tradisi keagamaan umat Hindu tidaklah diragukan lagi. Begitu juga dengan keanekaragaman budaya yang ada di Nusantara yang begitu beragam dan memiliki tradisi yang terjalin sesuai dengan tiga kerangka dasar agama Hindu: tatwa, susila, dan upacara. Demikian pula apa bila

UPAYA MENCARI TUHAN MENURUT ORANG JAWA

kejawen-ritual

Berdasarkan pengertian bahwa Tuhan bersatu dengan ciptaan-Nya itu, maka orang Jawa pun tergoda untuk mencari dan membuktikan keberadaan Tuhan. Mereka menggambarkan usaha pencariannya dengan memanfaatkan sistem simbol untuk memudahkan pemahaman. Sebagai contoh pada sebuah kidung Dhandhanggula, digambarkan sebagai berikut: Ana